Akulah sang putri. Putri Jasmine Williams. Putri kedua dari pasangan raja dan ratu William Bentley dan Kate William,, penguasa kastil Bentley. Aku memiliki seorang kakak yang usianya terpaut tiga tahun denganku yaitu 18 tahun. Namanya Jason Williams. Sedangakan kedua adikku bernama Lillian Williams dan Susan Williams.
Aku terlahir untuk mematuhi semua peraturan ayah dan ibuku. Sejak lahir aku tidak pernah melihat laki-laki selain ayah dan Jason. Aku hanya dikurung dalam kamar merah mudaku. Aku bosan dengan hidupku. Aku merasa semuanya telah merampas hakku. Aku benar-benar tidak pernah merasakan keadilan. Ayah dan ibu memperbolehkan Jason untuk bertemu dengan wanita-wanita lain. Sedangakan aku, melihat saja tidak boleh, apalagi bertemu. Semua orang jahat padaku. Tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal aku ingin sekali hidup seperti putri-putri raja yang lain, yang hidup bahagia bersama pangeran mereka. Tapi apa yang kudapat? Dalam kisah hidupku aku tak bisa menemuakan akhir cerita cinta dengan kata-kata “They life happily ever after…..”. Mungkin inilah jalan takdirku. Harus diikat peraturan serba ketat yang harus kupatuhinya. Tapi aku pernah berpikir untuk kabur dari kastil ini. Atau mungkin lebih pantas kusebut penjara ini. Tapi tak mungkin aku bisa. Oh…, Tuhan! Tolonglah aku!
Ketukan pintuku membangunkanku dari lamunan. Ternyata itu ibuku.
“Jasmine, Ibu dan Ayahmu ingin bicara padamu. Kamu harus segera turun.”
“Baik, Bu.”
Aku pun turun ke ruang keluarga. Di sana hanya ada ayah dan ibu. Sedangakan Jason, Lil, dan Suz mengintip dari depan kamar Jason yang berada tepat di samping kamarku. Sepertinya ini akan jadi pembicaraan yang penting tapi membosankan.
Aku duduk di atas kursi dengan tetap memasang earphone di telingaku yang tersambung pada sebuah I-pod. Lalu kunyanyikan sepotong lagu dengan keras di hadapan ayah dan ibuku.
“Are you stuck inside a world you hate?
Are you sick of everyone around?
With their big fake smiles and stupid lies,
While deeped inside you’re bleeding………”
“Jassie, hentikan! Ibu tak suka lagu itu!” teriak ibu padaku.
“Tapi aku mencintainya. Lagu ini sangatlah pantas untukku yang sudah bosan dengan hidup serba merah muda ini!” bantahku pada ibu.
“Hentikan!” ledak ibu semakin geram.
“Diam! Kalian ini seperti anak kecil saja. Jasmine, matikan I-podmu!” bentak ayah.
Lalu kulepas earphone dari telingaku dan kubanting ke lantai I-pod merah muda itu.
“Jassie, itu tidak sopan.” Kata ibu dengan perlahan.
“Kate, biarakan saja. Sekarang ayah dan ibu ingin bicara padamu.” Kata ayah.
“Oh…, silakan bicara saja. Asal tidak bicara yang membosankan. Apakah kalian mau membelikanku Mercy merah muda? Atau helikopter merah muda?”
Kudengar cekikikan Susan dari atas. Ayah mendengarnya dan menyuruh mereka pergi. Lalu mereka masuk ke kamar Jason. Tapi aku yakin bahwa mereka akan kembali mengintip lagi.
“Jassie, berusahalah untuk sopan kepada ayahmu.” Kata ibu.
“Baik, Bu.”
“Jasmine, mungkin inilah saatnya bagi Ayah dan Ibu untuk berbicara tentang pernikahanmu.” Kata ayah sambil memperhatikan wajahku baik-baik.
“Pernikahanku?” tanyaku dengan penasaran.
“Iya. Ayah dan Ibu sudah memiliki beberapa calon untukmu. Mereka adalah pengeran-pangeran dari berbagai penjuru dunia.” Kata ayah.
“Tapi mengapa harus aku? Bagaimana dengan Jason? Dia kakakku. Seharusnya dia yang menikah lebih dulu.” Kataku dengan nada memohon.
“Tidak! Aku tidak mau menikah duluan!”
Jason tiba-tiba muncul dan berteriak seperti itu. Lalu ayah menyuruhnya pergi ke kamarnya.
“Jason, Lillian, Susan, kembali ke kamar kalian masing-masing!”
Dengan serentak mereka menjawab, “Baik, Yah… ” Lalu mereka pergi.
“Kamu tahu sendiri kan, Jason tidak mau menikah dulu.” Kata ayah.
“Tapi aku juga tidak mau menikah dulu!”
“Tapi kamu harus menikah!” bentak ayah padaku.
“Mengapa? Mengapa harus aku lagi, lagi, lagi, dan lagi? Engkau selalu memaksaku. Engaku tak pernah memikirkan perasaanku. Engkau tak pernah mengenaliku!” teriakku pada ayah.
Aku pun kembali ke kamarku dengan alis tertekuk. Aku menangis. Menangis atas kesialanku. Aku pun berpikir untuk kabur dari kastil. Tapi aku tak tahu harus kabur ke mana?
* * * * * * *
“Tok…tok…tok…!”
“Jassie….!” suara Susan memanggilku.
“Masuk Suz!” jawabku dengan nada rendah.
“Jas, mengapa menangis?”
Aku menatap matanya sejenak. Lalu kupeluknya erat-erat sambil meneteskan air mata.
“Suzie, aku tidak mau menikah………!”
“Jas, aku mengerti perasaanmu saat ini. Bagaimana tidak, kamu yang sebelumnya tidak pernah bertemu laki-laki selain ayah dan Jason, tiba-tiba saja dijodohkan dengan orang yang tidak kamu kenal. Jika aku jadi dirimu pun tak akan mau.”
“Lalu aku harus apa sekarang? Aku sangat bingung Suz!”
“Aku juga tidak tahu, Jas. Mungkin kamu harus banyak berdoa.”
“Tetapi, tiap hari aku pun berdoa.”
“Mungkin lebih banyak dari itu?”
“Terima kasih atas saranmu, Suz. Meskipun itu kurang membantuku keluar dari masalah ini. Terima kasih banyak.”
“Ya, sama-sama. Itulah gunanya saudara!” kata Susan sambil mengangkat kedua alisnya. Lalu dia pun keluar dari kamarku dengan wajah ceria. Aku sangat senang bisa membuatnya merasa seperti pahlawan kecil, meskipun bagiku tidak.
Aku pun kembali berbaring. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku lagi. Kukira itu Susan lagi. Tapi ternyata itu Mary, pelayan kastil. Dia membawa sebuah gaun terkembang berwarna merah muda berlengan panjang yang dihiasi mawar-mawar merah di sekelilingnya, beserta sebuah kardus dan sebuah kotak kosmetik yang kedua-duanya berwarna merah muda.
“Ini gaun beserta aksesorismu, Yang Mulia.”
“Untuk apa?”
“Untuk pesta pemilihan calon suamimu nanti malam, Yang Mulia.”
“Apa!?”
“Ini perintah baginda raja, Yang Mulia.”
“Haruskah aku memakai semua ini?”
“Iya, Yang Mulia.”
“Baik, aku tak akan memakai semua ini kecuali aku sendiri yang memasangnya. Oke? Sekarang kamu boleh pergi.”
“Baik, Yang Mulia.”
Oh… Tuhan. Aku tidak mau menikah secepat itu! Mengapa semua orang memaksaku untuk menikah? Aku benar-benar tidak mau! Aku harus berbuat apa? Aku hanya memiliki 11 jam 45 menit untuk keluar dari masalah ini. Apakah aku harus kabur? Tapi tak mungkin! Penjagaan di luar sangatlah ketat, mengingat malam ini merupakan malamku, malam di mana aku harus memakai gaun beserta tetek-bengeknya yang serba merah muda. Oh……tidak! aku pasti akan terlihat seperti badut pesta! Apa? Badut pesta? Itulah jawabannya! Aku harus terlihat seperti badut pesta sehingga pangeran-pangeran payah itu tidak akan tertarik padaku. Iya, mereka akan membenciku, selamanya dan selama-lama-lama-lamanya!
* * * * * * *
Inilah malamku. Malam pemilihan calon suamiku..Mereka sudah datang. Pangeran-pangeran payah itu pasti akan terpesona padaku, sampai-sampai mereka akan muak melihatku. Iya, lihat saja apa yang akan kuperbuat 15 menit kemudian. Dan setelah pangeran-pangeran itu berlari menjauhiku, aku dengan entengnya akan berkata, ”Oh… look around! What’s going on? What I’ve done? I am so sorry….!” Aku tidak sabar untuk segera melihat wajah mereka. Tapi mungkin tak bisa karena mereka menutup wajahnya dengan topeng. Itulah persyaratan bagi para pangeran untuk datang pada pesta malam ini. Karena bagi ayah aku tetap tidak boleh melihat laki-laki selain dia dan Jason. Dan menurutnya, penampilan seorang laki-laki bukanlah menjadi sebuah penilaian. Yang penting dia memiliki sifat yang baik dan mencintaiku seutuhnya. Oh… Whatsoever! Aku tak peduli. Yang pasti malam ini akan menjadi malam terindah bagiku. Datanglah pada putrimu, wahai pangeran-pangeranku!
Lalu Mary datang menjemputku. Dia sangat terkejut melihat penampilanku yang pasti sangatlah “anggun”.
“Yang Mulia, maaf jika aku lancang menanyakan ini padamu. Tapi apakah kamu yakin dengan dirimu malam ini?”
“Tentu iya. Mengapa? Apakah menurutmu aku jelek?”
“Tidak, Yang Mulia. Kamu tetap cantik dengan busana apapun.”
“Baik, kalau begitu apalagi yang kautunggu? Cepat, antarkan aku keluar untuk memikat para pangeran tampan tapi payah itu!”
“Baik, Yang Mulia.”
Kemudian aku mengeluari kamarku bersama Mary. Pangeran-pangeran payah itu pun melihatku. Mereka tampak terkejut. Mereka pasti jatuh hati pada putri yang bergaun merah muda, yang mengikat rambut emasnya pada tiga sisi, yang membubuhkan blush on biru pada kedua pipinya, yang mewarnai bibir seksinya dengan lipstick merah merona, yang membubuhkan eyeshadow hitam pada kedua kelopak matanya, yang memasang bulu mata panjang warna oranye di kedua matanya, serta menggunakan parfum beraroma jasmine yang sama seperti namanya. Mereka terlihat berbisik satu sama lain. Mereka pasti sedang membicarakan penampilanku malam ini. Oh…, Aku merasa sangat tersanjung.
Aku pun menuruni tangga dengan menerbarkan senyumku kepada mereka. Terlihat dari kejauhan ayah dan ibuku yang tampak kecewa dan malu padaku. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu. Aku melakukannya karena aku memang tidak mau menikah dulu.
Lalu aku mendekati mereka. Tapi sial! Aku terjatuh gara-gara tingginya hak sepatu merah muda ini. Salah seorang pangeran pun mendekatiku dan membantuku untuk bangkit.
“May I help you?” tanyanya dengan lembut.
“Oh.. Absolutely, yes.” Jawabku dengan agak gemetar.
Oh…, tidak! aku tergoda olehnya. Bola mata hijau yang sama seperti warna topengnya…, sentuhan lembut tangannya…, suaranya… Oh Tuhan..! Aku jatuh cinta. Meskipun aku tidak mengetahui persis wajahnya, tapi semua itu tak bisa dilupakan. Namun setelah itu dia pergi bersama pangeran-pangeran dari seluruh dunia, melangkah meninggalkanku. Memang itulah yang kumau. Tapi sebelumnya aku tidak menyangka bahwa aku akan jatuh cinta kepada salah seorang dari mereka.
Lalu dengan segera ibu mendekatiku dengan muka memerah. Dan sebelum ibu memarahiku, aku harus memulai pidatoku.
“Oh…Look around! What’s going on? I’m so sorry for what I’ve done……”
“Apa maksud semua ini, Yang Mulia Jasmine Williams?” tanya ibu dengan geram.
“Sudahlah Kate, semua telah terjadi. Kita tidak bisa mengulang waktu kembali.” Kata ayah menenangkan ibu.
“Yes, you’re right! A+ for you, Dad! I have to go to my bedroom now. I love you all!”
Aku pun membaringkan diri di atas ranjang merah mudaku. Lalu aku bangkit lagi untuk melepas gaunku dan semua aksesorisnya serta mengahapus make up yang menempel di wajahku. Setelah selesai dengan itu aku kembali berbaring. Aku terpikir pangeran dengan mata hijaunya tadi. Andai aku bisa mengetahui namanya. Aku tak bisa melupakannya. Mungkinkah dia pangeranku yang sesungguhnya, Yang telah kuimpikan selama ini? Kuharap jawabannya iya. Dan semoga saja malam ini aku bermimpi indah. Bermimpi tentang pangeranku, bermimpi tentang dia…….
* * * * * * *
“Tiit…tiit…Tiit…tiit……” alarmku berbunyi. Aku pun segera mandi, lalu turun ke ruang makan. Seperti biasa, aku makan roti dan selai nanas. Ayah, ibu, Jason, Lil, dan Suz tampak memperhatikanku.
“Mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanyaku sambil mengoleskan selai pada rotiku.
“Tidak. Kami hanya heran pada apa yang kauperbuat semalam.” Kata Jason.
“Memangnya semalam ada apa?”
“Jangan berpura-pura, Jas! Kamu merusak pestanya!” kata Lil dengan nada menyindir.
“Kalian merusak hidupku, sedangkan aku merusak pestanya. Kita satu sama!”
Kemudian aku berdiri dan melemparkan sisa rotiku ke atas meja makan. Lalu aku berlari ke kamarku sambil meneteskan air mata kembali. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Tiba-tiba ayah dan ibu datang ke kamarku dengan muka geram.
“Tingkahmu semakin lama semakin tak karuan, Jasmine! Ayah terpaksa mengambil jalan pintas!” bentak ayah padaku.
Lalu ayah dan ibu keluar dari kamarku dan mengunci kamarku dari luar. Aku pun berlari ke arah pintu dan berteriak memohon agar seseorang membukakan pintu untukku. Tapi sudah tidak ada seorang pun di luar sana. Hanya ada aku sendiri, terkurung dalam kamar merah muda payah ini.
Hari-hari pun kulewati dengan tetap dikurung dalam kamar. Jika tiba saatnya makan, Mary membawakanku roti dan susu. Tapi aku tak pernah menyentuhnya. Aku ingin segera mati saja! Tiap hari pun kulewati dengan tangisan-tangisan yang tak ada seorang pun yang mendengarnya.
Hingga suatu pagi kuputuskan untuk kabur dari kastil. Kumeloncat lewat jendela kamarku. Dan untungnya aku mendarat di atas kasur bau yang dijemur karena ompol Susan. Aku pun bangkit dan menyelinap di balik pohon cemara. Lalu aku keluar dari gerbang kastil dengan mengenakan jeans biru dan kaos lengan panjang berwarna ungu tanpa sepengetahuan seorang pun.
Aku berlari secepat mungkin, dan setelah kastilnya terlihat agak jauh, aku berhenti sejenak di bawah pohon cemara yang rindang. Nafasku tersengal. Aku pun bingung harus lari ke mana lagi. Kuperhatikan keadaan sekelilingku. Aku tidak mengenali tempat ini karena aku tak pernah keluar dari kastil sebelumnya. Lalu aku naik ke sebuah bukit yang lumayan tinggi yang di puncaknya terdapat sebatang pohon apel yang menjulang dan berbuah merah segar. Sesampai di puncak bukit, aku melihat pemandangan di sekelilingnya. Aku bisa melihat sekumpulan bangunan dan orang-orang di sekitanya. Mungkin inilah yang disebut dengan kota. Kemudian aku memetik sebuah apel yang letaknya paling rendah di antara yang lain. Lalu aku memakannya. Rasanya sangat segar. aku pun memetik beberapa darinya dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik yang aku temukan di bukit itu juga.
Bersambung…….






