Di asrama SMP Super ada sebuah geng bernama geng “Super Gaul”. Di kelompok itu ada Dita yang pintar, Lala yang kaya, Kyoki yang misterius, Gico yang manja, Djamboel si pemimpin geng, dan aku sendiri …. Mia, walaupun aku cerdik, aku sangat ceroboh juga loh ….., dua hari yang lalu aku menginjak buku Lala yang dibelinya dari Amerika. Tentu saja Lala marah, bahkan anak Super Gaul yang lain ikut menegurku. “Sebel Aku!” Sejak saat itu aku jadi kurang dekat dengan anggota Super Gaul yang lain.
Kemarin, di sekolahku ada murid baru bernama Sisie, dia sangat cantik dan modis. Dia juga sering memujiku. Ah …… rasanya Super Gaul yang berenam itu tidak ada apa-apanya dengan seorang Sisie.
Sudah seminggu ini guruku Pak Blangkon tidak masuk karena sakit, sehingga beliau diganti sementara dengan Kepala Sekolah kami Bu Killa, bu Killa adalah orang yang kejam. Mau ke Toilet waktu pelajarannya saja tidak boleh, aku sebagai “pelanggan” Toilet terpaksa menunggu hingga pelajarannya selesai. **********
Waktu aku akan ke toilet aku mendengar suara botol jatuh dari dalam toilet, aku segera masuk dan menemukan sebuah botol berisi petasan menyala di dekat tempat sampah, lalu aku memeriksa keaadaan sekitar, dan aku pun menemukan secarik kertas bertuliskan “Awas kau Mia!”
Aku penasaran mungkinkah Lala tega berbuat begitu ? Aku tidak tahu pasti, jadi malam ini aku putuskan untuk keluar dari asramaku dan menuju toilet sekolah. Ternyata di dalam toilet sudah ada botol yang berisi petasan, tapi petasan itu belum menyala, berarti botol itu milik anak asrama.
Aku makin penasaran mencari siapa pelakunya. Mmm….. Dita dapat merakit petasan karena dia pikirannya sudah mirip “Profesor”, Lala juga bisa, dia kan sebel sana aku, Kyoki juga Mungkin, dia memang kurang terbuka. Gico walaupun tinggal di asrama, orang tuannya memanjaknnya dan dia mungkin dapat merengek minta petasan. Djamboel, ayahnya tinggal di desa dekat asrama ini, dan mungkin disana banyak petasan. Sisie, ah ……… nggak mungkin.
Aku makin penasaran, jadi keesokan paginya aku cepat-cepat memeriksa keadaan toilet, dan disana botol yang berisi petasan itu sudah dinyalakan dan sedang dikelilingi oleh anak SuperGaul, jadi tentu bukan mereka pelakunya, setelah mereka pergi, aku segera memadamkan apinya dn membuang botol seram itu.
**********
Sepulang sekolah Super Gaul memanggilku, mereka sudah tahu bahwa aku mengetahui ancaman itu dan telah membuang botol seram itu, mereka berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Besok pagi, aku akan segera meminta maaf atas prasangka burukku terhadap mereka.
Keesokan paginya Super Gaul bersama pak Blangkon yang baru sembuh menunggu si pelaku datang. Tiba-tiba…. Muncullah Sisie, Ah … Betulkah ?
Dengan tergesa-gesa Sisie membawa sebuah petasan dan sekotak korek api, kami semua muncul mengelilinginya, tentu saja Sisie kaget saat tepergok kami. Pak Blangkon lebih kaget lagi, bu Killa memelototi Sisie, dan langsung menelpon orang tua Sisie untuk memnbeitahu bahwa Sisie akan di SKORS !.
*********
Akhirnya Sisie mengakui bahwa dia sengaja menerorku, aku telah mengerti kalau orang yang kelihatannya baik malah ingin mencelakanku, sedangkan Super Gaul yang suka menegurku malah ingin membantuku.
Dari pengalaman itu, aku sadar bahwa teguran teman-teman belum tentu buruk, sejak saat itu aku dan anggota Super Gaul yang lain jadi makin akrab dan tidak pernah ada lagi peneroran di sekolahku.
Oleh : Zahrotur Riyadho & Dessy Dwi L ( Kelas VII-C ) Juara I Lomba Cerpen Pekan Rajabiyah OSIS MTs. Ihyaul Ulum Tahun 2009






