<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OSIS MTs. Ihyaul Ulum &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://www.osis.mtsppiu.sch.id/category/cerpen/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.osis.mtsppiu.sch.id</link>
	<description>Dukun Gresik Jatim</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 03:41:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>MISTERI PETASAN DI SEKOLAH</title>
		<link>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/misteri-petasan-di-sekolah</link>
		<comments>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/misteri-petasan-di-sekolah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 03:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.osis.mtsppiu.sch.id/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Di asrama SMP Super ada sebuah geng bernama geng “Super Gaul”. Di kelompok itu ada Dita yang pintar, Lala yang kaya, Kyoki yang misterius, Gico yang manja, Djamboel si pemimpin geng, dan aku sendiri &#8230;. Mia,  walaupun aku cerdik, aku sangat ceroboh juga loh ….., dua hari yang lalu aku menginjak buku Lala yang dibelinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Di asrama SMP Super ada sebuah geng bernama geng “Super Gaul”. Di kelompok itu ada Dita yang pintar, Lala yang kaya, Kyoki yang misterius, Gico yang manja, Djamboel si pemimpin geng, dan aku sendiri &#8230;. Mia,  walaupun aku cerdik, aku sangat ceroboh juga loh ….., dua hari yang lalu aku menginjak buku Lala yang dibelinya dari Amerika. Tentu saja Lala marah, bahkan anak Super Gaul yang lain ikut menegurku. “Sebel Aku!” Sejak saat itu aku jadi kurang dekat dengan anggota Super Gaul yang lain.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kemarin, di sekolahku ada murid baru bernama Sisie, dia sangat cantik dan modis. Dia juga sering memujiku. Ah …… rasanya Super Gaul yang berenam itu tidak ada apa-apanya dengan seorang Sisie.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Sudah seminggu ini guruku Pak Blangkon tidak masuk karena sakit, sehingga beliau diganti sementara dengan Kepala Sekolah kami Bu Killa, bu Killa adalah orang yang kejam. Mau ke Toilet   waktu pelajarannya saja tidak boleh, aku sebagai “pelanggan” Toilet  terpaksa menunggu hingga pelajarannya selesai.<span id="more-57"></span> **********</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Waktu aku akan ke toilet aku mendengar suara botol jatuh dari dalam toilet, aku segera masuk dan menemukan sebuah botol berisi petasan menyala di dekat tempat sampah, lalu aku memeriksa keaadaan sekitar, dan aku pun menemukan secarik kertas bertuliskan “Awas kau Mia!”</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Aku penasaran mungkinkah Lala tega berbuat begitu ? Aku tidak tahu pasti, jadi malam ini aku putuskan untuk keluar dari asramaku dan menuju toilet sekolah. Ternyata di dalam toilet sudah ada botol yang berisi petasan, tapi petasan itu belum menyala, berarti botol itu milik anak asrama.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Aku makin penasaran mencari siapa pelakunya. Mmm&#8230;.. Dita dapat merakit petasan karena dia pikirannya sudah mirip “Profesor”, Lala juga bisa, dia kan sebel sana aku, Kyoki juga Mungkin, dia memang kurang terbuka. Gico walaupun tinggal di asrama, orang tuannya memanjaknnya dan dia mungkin dapat merengek minta petasan. Djamboel, ayahnya tinggal di desa dekat asrama ini, dan mungkin disana banyak petasan. Sisie, ah &#8230;&#8230;&#8230; nggak mungkin.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Aku makin penasaran, jadi keesokan paginya aku cepat-cepat memeriksa keadaan toilet, dan disana botol yang berisi petasan itu sudah dinyalakan  dan sedang dikelilingi oleh anak SuperGaul, jadi tentu bukan mereka pelakunya, setelah mereka pergi, aku segera memadamkan apinya dn membuang botol seram itu.</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>**********</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Sepulang sekolah Super Gaul memanggilku, mereka sudah tahu bahwa aku mengetahui ancaman itu dan telah membuang botol seram itu, mereka berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Besok pagi, aku akan segera meminta maaf  atas prasangka burukku terhadap mereka.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Keesokan paginya Super Gaul bersama pak Blangkon yang baru sembuh menunggu si pelaku datang. Tiba-tiba&#8230;. Muncullah Sisie, Ah &#8230; Betulkah ? </strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dengan tergesa-gesa Sisie membawa sebuah petasan dan sekotak korek api, kami semua muncul mengelilinginya, tentu saja Sisie kaget saat tepergok kami. Pak Blangkon lebih kaget lagi, bu Killa memelototi Sisie, dan langsung menelpon orang tua Sisie untuk memnbeitahu bahwa Sisie akan di SKORS !.</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong> </strong></span></p>
<p align="center"><span style="color: #0000ff;"><strong>*********</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Akhirnya Sisie mengakui bahwa dia sengaja menerorku, aku telah mengerti kalau orang yang kelihatannya baik malah ingin mencelakanku, sedangkan Super Gaul yang suka menegurku malah ingin membantuku.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dari pengalaman itu, aku sadar bahwa teguran teman-teman belum tentu buruk, sejak saat itu aku dan anggota Super Gaul yang lain jadi makin akrab dan tidak pernah ada lagi peneroran di sekolahku. </strong></span></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;"><strong>Oleh : Zahrotur Riyadho &amp; Dessy Dwi L  ( Kelas VII-C )                       Juara I </strong></span><span style="color: #0000ff;"> </span></em><span style="color: #0000ff;"><strong><em> Lomba Cerpen Pekan Rajabiyah                                                  OSIS  MTs. Ihyaul Ulum Tahun 2009</em><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/misteri-petasan-di-sekolah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50 : 50 Mission</title>
		<link>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/50-50-mission</link>
		<comments>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/50-50-mission#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 00:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.osis.mtsppiu.sch.id/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Zahrotin Nufus Alumni MTs. Ihyaul Ulum 2009 Miss-Terius. Itulah julukan yang cocok untukku. Tiap kali aku keluar rumah, anak-amak kecil itu selalu saja memandangku. Aku merupakan seorang pembunuh bayaran. Iya, Alexandra Dundovic namaku. Dulu aku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahku meninggal 18 tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 5 tahun. Ibuku……, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<address style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; text-align: right;"><span style="font-size: x-small;">Oleh :</span></address>
<address style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; text-align: right;"><span style="font-size: x-small;">Zahrotin Nufus</span></address>
<address style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; text-align: right;"><span style="font-size: x-small;">Alumni MTs. Ihyaul Ulum 2009<br />
</span></address>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Miss-Terius. Itulah julukan yang cocok untukku. Tiap kali aku keluar rumah, anak-amak kecil itu selalu saja memandangku. Aku merupakan seorang pembunuh bayaran. Iya, Alexandra Dundovic namaku. Dulu aku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahku meninggal 18 tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 5 tahun. Ibuku……, sebenarnya aku agak enggan membicarakannnya. Aku tak tahu sekarang dia berada dimana. Semenjak ayah meninggal, tingkah lakunya tidak karuan. Dia menjual dirinya kepada laki-laki hidung belang. Sudahlah! Tak usah lagi membicarakannya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;"><span id="more-28"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Tiga tahun yang lalu aku pernah memiliki seorang kekasih. Namanya Mike. Dia amat mencintaiku. Tapi akhirnya, kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku sangat mencintainya. Tapi aku harus mengakhiri hubungan ini. Sehingga kuputuskan untuk pindak ke luar kota dan mengganti namaku menjadi Daphne Mattheeusen agara tak ada lagi yang mengenaliku. Tapi sampai kini aku masih mencintai Mike. Dia satu-satunya lelaki yang kucintai di dunia ini. Tapi kini aku tak tahu berada di mana dia.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Oh iya! Aku lupa. Sekarang aku harus pegi ke rumah David McKinnie. Kemarin dia menelponku dan menawariku menjalankan misi membunuh saingannya, seorang bos besar yang amat tenar. Dan McKinnie menyuruhku pergi ke rumahnya sekarang.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Di gerbang rumah McKinnie, aku disambut sinis oleh dua orang bodyguard berpakaian hitam. Kutunjukkan kartu pengenalku, dan kemudian mereka membukakan gerbangnya. Salah satu dari mereka berdua pun mengantarkanku melewati taman, sampai di pinti rumah McKinnie. Sesampai di pintu rumahnya, bodyguard yang mengantarkanku itu membisikkan sesuatu kepada bodyguard lain yang berjaga di pintu rumah McKinnie. Lalu mereka membukakan pintunya. Satu dari mereka berdua pun mengantarkanku memasuki rumah McKinnie sampai datang seorang wanita berjas dan celana hitam yang membawa sebuh clipboard. Dari tanda pengenal yang tergantung pada lehernya, aku tahu bahwa dia adalah sekretaris McKinnie. Dia lalu menjabat tanganku..</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Aku Kelly van Cooper, sekretaris McKinnie.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Daphne Mattheeusen.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Untuk seorang pembunuh, kau lebih cantik dari yang kubayangkan.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Terima kasih.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Lalu dia mengajakku memasuki ruang bawah tanah dari rumah McKinnie. Disana ada David McKinnie dan beberapa orang bodyguard di sekelilingnya. McKinnie pun mempersilahkanku duduk di atas sebuah kursi dari dua buah kursi khusus untukku dan McKinnie. Lalu datang seorang pelayan pria yang membawa sebotol whiskey dan dua buah gelas berukuran kecil. McKinnie pun menuangkan minuman itu pada gelasnya. Kemudian, belum sampai McKinnie menempelkan bibir botol whiskey iti pada gelasku, aku mencegahnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Maaf, aku tidak minum.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Oh….kau tidak suka yang ini?Bagaimana dengan….”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Maaf, kau tidak minum.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Baiklah. Aku yang akan menghabiskannya.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">McKinnie pun meminumnya sampai habis. Kemudian menuangkannya ke gelasnya lagi dan minum lagi. Lalu dia memulai pembicaraan.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau kenal Mike Oliver?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Mike Oliver? Seperti nama mantan kekasihku. Sekretaris McKinnie pun menhambil sele,bar foto dari sakunya. Kemudian foto itu diberikannya kepada McKinnie. Lalu ditunjukkannya kepadaku.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau kenal dia?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Tidak.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Dia adalh direktur utama B&amp;B Inc di kota ini. Dialh yang menggagalkan usahaku selama ini. Jadi aku ingin dia mati1”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Dia membentak dam memukulkan tangannya pada foto Mike yang berada di atas meja sehinnga semua tersentak. Lalu dia membisikkan sesuatu kepada sekretarisnya hingga dia mengambilkan selembar cek berniala US$ 1000.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Bagaimana, kau terima tawaranku?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Aku bekerja 50 kali lebih handal, tembakanku 50 kali lebih mematikan dan…”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Bayaranmu harus 50 kali lebih banyak?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Tepat!”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Kemudian McKinnie merobek cek US$ 1000 itu dan sekretarisnya memberikannya selembar cek lagi. Nilai cek itu US$ 50.000. tanpa banyak basa-basi, langsung kuanggukkan kepalaku. Lalu kami berdiri dan berjabat tangan. Kemudian aku diantarkan Kelly Mengeluari ruang itu. Dia mengajakku bicara.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Berapa lama kau jadi pembunuh bayaran?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Tiga tahun.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Sudah berapa orang yang kau bunuh?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Sekitar 20 orang.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Dan sampai sekarang kau masih buron?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Iya.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau memang professional.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Itu rahasiaku.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Dia mengantarkanku sampai di pintu rumah McKinnie. Kemudian aku pulang.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Sesampai di rumah, kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Aku berfikir habis-habisan. Bagaiman aku bisa membunuh jika targetnya adalh orang yang kucintai. Aku tak akan tega. Tapi kalau aku tidak membunhnya. Oh Tuhan! Aku benar-benar dilema. Tapi aku harus memilih salah satu mereka. Uang atau Mike. Aku harus memilih uang. Karena aku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku dibayar bukan untuk berbelas kasihan kepada orang lain. Namun aku harus dibayar untuk diriku sendiri. Untuk hidupku. Bukan untuk orang lain. Iya. Semua itu benar. Aku harus memulai misiku besok sebelum aku berubah pikiran.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">* * * * * * * * * * * **</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Hari ini ku mulai misiku. Aku harus pergi ke kantor Mike. Tapi, di jalan aku melihatnya bersama tiga orang karyawannya sedang berjalan menuju kantornya. Aku bersiap-siap membidiknya. Tapi, aku gemetar, dan…… “Dor!” Secara tidak sengaja sebutir peluru dari dalam pistolku tertembak kearah toko perhiasan yang terletak disamping kanan Mike. Lalu Mike menoleh ke arahku. Dia melihatku. Sepertinya dia mengenaliku. Aku pun bersembunyi dibalik bak sampah dan setelah keaadannya aman, aku pulang.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Inilah yang kau sebut 50 kali lebih mematikan, Mattheeusen?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kali ini meleset. Tapi besok pasti kena.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau kuberi kesempatan satu kali lagi.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Keesokan harinya, kumulai misiku lagi. Aku melihat Mike memasuki kantornya. Aku langsung berlari, menuju lantai 5 dari sebuah gedung kosong bekas perusahaan mie instant yang terletak disebelah selatan gedung B&amp;B Inc yang terbakar dua hari yang lalu. Dan kebetulan Mike menghadiri meeting di lantai 5 gedung B&amp;B inc. aku langsung mengambil pistol dari dalam jaketku dan mulai membidiknya. Lagi.. Gemetar yang kurasakan. Tapi aku harus membunuh Mike sekarang juga. “Dor!” Peluruku menembus kaca jendela ruang pertemuan itu, lalu menembus kaki kiri Mike. Oh tidak! Pasti sakit. Semua orang yang ada di sana langsung menolong Mike dan membawanya ke rumah sakit.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Seusai kejadian itu aku merasa bersalah kepada Mike. Di rumah, aku menonton televise. Ada berita upaya pembunuhan seorang bigboss bernama Mike Oliver. Mike masih dalam keadaan kritis. Sementara polisi masih melakukan pencarian terhadap pelaku penembakan ini. Teleponku pun berdering.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau meleset lagi, Mattheusen.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Besok aku akan mengirimnya ke surga. Maksudnyaa ke neraka. Aku janji.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Kau tidak main-main denganku kan?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Ehm. Aku serius.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Gawat! Sepertinya McKinnie mulai mencurigaiku. Dia tak boleh tahu siapa aku dan apa sebenarnya hubunganku dengan Mike. Aku harus menutup rapat semua tentangku. Dia tak boleh tahu.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">* * * * * * * * * * * **</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Hari ini kusiapkan semua matang-matang. Aku menyelinap ke kamar di mana Mike dirawat di rumah sakit itu. Di sana Mike terbaring . Kasihan. Aku benar-benar tak tega melihatnya, apalagi membunuhnya. Untuk ketiga kalinya, kusiapakan pistolku dan kuletakaan mulut pistol itu tepat di pelipis Mike. Dia terbangun. Aku pun bersiap-siap menembakkan peluru dari dalam pistolku. Tapi tanganku tak sanggup bergerak sedikit pun. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana. Aku tidak bisa membunuhnya. Tiba-tiba Mike bicara.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Alex., kaukah itu?” Aku hanya bisa diam, tak berkata sepatah pun</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Alex, jadi selama ini, kau yang melakukannya? Mengapa?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Di dunia ini yang kubutuhkan hanyalah uang. Tak ada yang lain.”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Menurutmu uang adalah segalanya? Sudah berapa orang yang tak berdosa yang telah menjadi korban kekejianmu?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Itu bukan urusanmu! Sekarang kau diam! Atau……?</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Atau apa ? kau akan membunuhku ? Alex, tolong hadapilah kenyataan! Aku tahu, hatimu bertentangan dengan semua ini. Sebenarnya kau tak berkeinginan membunuhku kan?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Aku gemetaran mendengar kata-katanya. Mukaku memerah menahan tangis.Jkeringat pun mengucur deras. Tiba-tiba, seseorang meletakkan sesuatu di pelipisku. Ternyata McKinnie dengan pistol di pelipisku. “Selamat pagi Nona! Kau sudah selesai dengan misimu, Nona Dundovic?” Oh tidak! Dia sudah tahu siapa aku. Dan dia sudah tahu semua tentangku dan Mike.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Bagaimana, kau memilih untuk membunuh mantan kekasihmu, atau aku yang akan mengirim kalian berdua ke surga?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Aku tak bisa menjawabnya. Mulutku tertutup rapat untuk pertanyaan itu. Mike memandangiku penuh makna. Tapi, aku tak mampu membaca matanaya. Kuambil napas panjang dan kuputuskan untuk menyerah pada takdir dan melepaskan pistol dari genggamanku yang kemudian terjatuh di samping kanan kepala Mike. Kupejamkan mataku dan kudengar suara jari McKinnie bersiap-siap menembakkan peluru ke kepalaku. “Dor!” Sebuah peluruterlpas dari sarangnya. Anehnya, sama sekali aku tidak terluka. Ternyata yang tertembak adalah McKinnie. Dengan pistolku, Mike menembak dada McKinnie, seketika dia tergeletak di atas lantai dan dia terkapar.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Air mata tak kuasa lagi kutahan. Ia pun membassahi pipiku. Mike pun bangkit dan merentangkan tanagannya, seakan dia ingin mengajakku memeluknya. Aku sama sekali tak sanggup menolaknya. Aku sangt membutuhkan sebuah pelukan. Aku pun memeluk dan menggenggam tangan Mike. Dalam pelukanku, Mike menyanyikan sebuah lagu.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“ <span style="font-size: x-small;">Kan kupinjamkan bahuku untukmu menangis</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Kan kuhapus air mata yang basahi pipimu</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Kan kugenggam erat tanganmu</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Tak kan kulepaskan</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Kan kupeluk dirimu dengan segala rasa</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Sayangku ………”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">Zahra, bangun Nak! Sudah jam enam. Kamu nggak sekolah?”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY">“<span style="font-size: x-small;">E….! Ayo bangun! Kamu nggak sekolah? Lihat, sudah jam enam! Kamu itu kerjaannya Cuma ngigo saja! Cepat bangun!”</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"><span style="font-size: x-small;">Aduh! Ternyata aku mimpi. Aku bukan Alex atau Daphne. Aku juga bukan seorang pembunuh bayaran. Aku hanya seorang pelajar kelas IX SMP. Kemarin, guru bahasa Indonesiaku memberikanku sebuah PR, yaitu membuat cerpen. Dan aku sampai stress memikirkan tema apa yang akan kupakai untuk membuat cerpen. Sampai terbawa mimpi. Mungkin dari mimpi itulah kutemukan sebuah inspirassi. Berprofesi sebagai pembunuh bayaran yang bertempat tinggal di luar negeri dan memilik client yang ingin membunuh seorang bigboss yang ternyata dia adalah mantan kekasihnya. Phuih! Benar-benar sepintas mimpi yang menegangkan!.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/50-50-mission/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Majesty (Bagian &#8211; 1)</title>
		<link>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/the-majesty-bagian-1</link>
		<comments>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/the-majesty-bagian-1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 04:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.osis.mtsppiu.sch.id/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[by : Zahrotin Nufus Alumni MTs. Ihyaul Ulum 2009 Akulah sang putri. Putri Jasmine Williams. Putri kedua dari pasangan raja dan ratu William Bentley dan Kate William,, penguasa kastil Bentley. Aku memiliki seorang kakak yang usianya terpaut tiga tahun denganku yaitu 18 tahun. Namanya Jason Williams. Sedangakan kedua adikku bernama Lillian Williams dan Susan Williams. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address style="text-align: right;"><span style="color: #ff00ff;"><em>by : Zahrotin Nufus</em></span></address>
<address style="text-align: right;"><span style="color: #ff00ff;"><em>Alumni MTs. Ihyaul Ulum 2009</em></span></address>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Akulah sang putri. Putri Jasmine Williams. Putri kedua dari pasangan raja dan ratu William Bentley dan Kate William,, penguasa kastil Bentley. Aku memiliki seorang kakak yang usianya terpaut tiga tahun denganku yaitu 18 tahun. Namanya Jason Williams. Sedangakan kedua adikku bernama Lillian Williams dan Susan Williams.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;"><span id="more-9"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku terlahir untuk mematuhi semua peraturan ayah dan ibuku. Sejak lahir aku tidak pernah melihat laki-laki selain ayah dan Jason. Aku hanya dikurung dalam kamar merah mudaku. Aku bosan dengan hidupku. Aku merasa semuanya telah merampas hakku. Aku benar-benar tidak pernah merasakan keadilan. Ayah dan ibu memperbolehkan Jason untuk bertemu dengan wanita-wanita lain. Sedangakan aku, melihat saja tidak boleh, apalagi bertemu. Semua orang jahat padaku. Tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal aku ingin sekali hidup seperti putri-putri raja yang lain, yang hidup bahagia bersama pangeran mereka. Tapi apa yang kudapat? Dalam kisah hidupku aku tak bisa menemuakan akhir cerita cinta dengan kata-kata “They life happily ever after…..”. Mungkin inilah jalan takdirku. Harus diikat peraturan serba ketat yang harus kupatuhinya. Tapi aku pernah berpikir untuk kabur dari kastil ini. Atau mungkin lebih pantas kusebut penjara ini. Tapi tak mungkin aku bisa. Oh…, Tuhan! Tolonglah aku!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Ketukan pintuku membangunkanku dari lamunan. Ternyata itu ibuku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jasmine, Ibu dan Ayahmu ingin bicara padamu. Kamu harus segera turun.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, Bu.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku pun turun ke ruang keluarga. Di sana hanya ada ayah dan ibu. Sedangakan Jason, Lil, dan Suz mengintip dari depan kamar Jason yang berada tepat di samping kamarku. Sepertinya ini akan jadi pembicaraan yang penting tapi membosankan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku duduk di atas kursi dengan tetap memasang earphone di telingaku yang tersambung pada sebuah I-pod. Lalu kunyanyikan sepotong lagu dengan keras di hadapan ayah dan ibuku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Are you stuck inside a world you hate?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Are you sick of everyone around?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">With their big fake smiles and stupid lies,</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">While deeped inside you’re bleeding………”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jassie, hentikan! Ibu tak suka lagu itu!” teriak ibu padaku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tapi aku mencintainya. Lagu ini sangatlah pantas untukku yang sudah bosan dengan hidup serba merah muda ini!” bantahku pada ibu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Hentikan!” ledak ibu semakin geram.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Diam! Kalian ini seperti anak kecil saja. Jasmine, matikan I-podmu!” bentak ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Lalu kulepas earphone dari telingaku dan kubanting ke lantai I-pod merah muda itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jassie, itu tidak sopan.” Kata ibu dengan perlahan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Kate, biarakan saja. Sekarang ayah dan ibu ingin bicara padamu.” Kata ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Oh…, silakan bicara saja. Asal tidak bicara yang membosankan. Apakah kalian mau membelikanku Mercy merah muda? Atau helikopter merah muda?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Kudengar cekikikan Susan dari atas. Ayah mendengarnya dan menyuruh mereka pergi. Lalu mereka masuk ke kamar Jason. Tapi aku yakin bahwa mereka akan kembali mengintip lagi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jassie, berusahalah untuk sopan kepada ayahmu.” Kata ibu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, Bu.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jasmine, mungkin inilah saatnya bagi Ayah dan Ibu untuk berbicara tentang pernikahanmu.” Kata ayah sambil memperhatikan wajahku baik-baik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Pernikahanku?” tanyaku dengan penasaran.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Iya. Ayah dan Ibu sudah memiliki beberapa calon untukmu. Mereka adalah pengeran-pangeran dari berbagai penjuru dunia.” Kata ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tapi mengapa harus aku? Bagaimana dengan Jason? Dia kakakku. Seharusnya dia yang menikah lebih dulu.” Kataku dengan nada memohon.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tidak! Aku tidak mau menikah duluan!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Jason tiba-tiba muncul dan berteriak seperti itu. Lalu ayah menyuruhnya pergi ke kamarnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jason, Lillian, Susan, kembali ke kamar kalian masing-masing!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Dengan serentak mereka menjawab, “Baik, Yah&#8230; ” Lalu mereka pergi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Kamu tahu sendiri kan, Jason tidak mau menikah dulu.” Kata ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tapi aku juga tidak mau menikah dulu!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tapi kamu harus menikah!” bentak ayah padaku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Mengapa? Mengapa harus aku lagi, lagi, lagi, dan lagi? Engkau selalu memaksaku. Engaku tak pernah memikirkan perasaanku. Engkau tak pernah mengenaliku!” teriakku pada ayah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku pun kembali ke kamarku dengan alis tertekuk. Aku menangis. Menangis atas kesialanku. Aku pun berpikir untuk kabur dari kastil. Tapi aku tak tahu harus kabur ke mana?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">*		*	*	*	*	*	*</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tok&#8230;tok&#8230;tok&#8230;!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jassie&#8230;.!” suara Susan memanggilku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Masuk Suz!” jawabku dengan nada rendah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jas, mengapa menangis?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku menatap matanya sejenak. Lalu kupeluknya erat-erat sambil meneteskan air mata.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Suzie, aku tidak mau menikah&#8230;&#8230;&#8230;!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jas, aku mengerti perasaanmu saat ini. Bagaimana tidak, kamu yang sebelumnya tidak pernah bertemu laki-laki selain ayah dan Jason, tiba-tiba saja dijodohkan dengan orang yang tidak kamu kenal. Jika aku jadi dirimu pun tak akan mau.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Lalu aku harus apa sekarang? Aku sangat bingung Suz!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Aku juga tidak tahu, Jas. Mungkin kamu harus banyak berdoa.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tetapi, tiap hari aku pun berdoa.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Mungkin lebih banyak dari itu?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Terima kasih atas saranmu, Suz. Meskipun itu kurang membantuku keluar dari masalah ini. Terima kasih banyak.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Ya, sama-sama. Itulah gunanya saudara!” kata Susan sambil mengangkat kedua alisnya. Lalu dia pun keluar dari kamarku dengan wajah ceria. Aku sangat senang bisa membuatnya merasa seperti pahlawan kecil, meskipun bagiku tidak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku pun kembali berbaring. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku lagi. Kukira itu Susan lagi. Tapi ternyata itu Mary, pelayan kastil. Dia membawa sebuah gaun terkembang berwarna merah muda berlengan panjang yang dihiasi mawar-mawar merah di sekelilingnya, beserta sebuah kardus dan sebuah kotak kosmetik yang kedua-duanya berwarna merah muda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Ini gaun beserta aksesorismu, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Untuk apa?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Untuk pesta pemilihan calon suamimu nanti malam, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Apa!?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Ini perintah baginda raja, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Haruskah aku memakai semua ini?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Iya, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, aku tak akan memakai semua ini kecuali aku sendiri yang memasangnya. Oke? Sekarang kamu boleh pergi.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Oh&#8230; Tuhan. Aku tidak mau menikah secepat itu! Mengapa semua orang memaksaku untuk menikah? Aku benar-benar tidak mau! Aku harus berbuat apa? Aku hanya memiliki 11 jam 45 menit untuk keluar dari masalah ini. Apakah aku harus kabur? Tapi tak mungkin! Penjagaan di luar sangatlah ketat, mengingat malam ini merupakan malamku, malam di mana aku harus memakai gaun beserta tetek-bengeknya yang serba merah muda. Oh&#8230;&#8230;tidak! aku pasti akan terlihat seperti badut pesta! Apa? Badut pesta? Itulah jawabannya! Aku harus terlihat seperti badut pesta sehingga pangeran-pangeran payah itu tidak akan tertarik padaku. Iya, mereka akan membenciku, selamanya dan selama-lama-lama-lamanya!</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">*		*	*	*	*	*	*</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Inilah malamku. Malam pemilihan calon suamiku..Mereka sudah datang. Pangeran-pangeran payah itu pasti akan terpesona padaku, sampai-sampai mereka akan muak melihatku. Iya, lihat saja apa yang akan kuperbuat 15 menit kemudian. Dan setelah pangeran-pangeran itu berlari menjauhiku, aku dengan entengnya akan berkata, ”Oh&#8230; look around! What’s going on? What I’ve done? I am so sorry&#8230;.!” Aku tidak sabar untuk segera melihat wajah mereka. Tapi mungkin tak bisa karena mereka menutup wajahnya dengan topeng. Itulah persyaratan bagi para pangeran untuk datang pada pesta malam ini. Karena bagi ayah aku tetap tidak boleh melihat laki-laki selain dia dan Jason. Dan menurutnya, penampilan seorang laki-laki bukanlah menjadi sebuah penilaian. Yang penting dia memiliki sifat yang baik dan mencintaiku seutuhnya. Oh&#8230; Whatsoever! Aku tak peduli. Yang pasti malam ini akan menjadi malam terindah bagiku. Datanglah pada putrimu, wahai pangeran-pangeranku!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Lalu Mary datang menjemputku. Dia sangat terkejut melihat penampilanku yang pasti sangatlah “anggun”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Yang Mulia, maaf  jika aku lancang menanyakan ini padamu. Tapi apakah kamu yakin dengan dirimu malam ini?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tentu iya. Mengapa? Apakah menurutmu aku jelek?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tidak, Yang Mulia. Kamu tetap cantik dengan busana apapun.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, kalau begitu apalagi yang kautunggu? Cepat, antarkan aku keluar untuk memikat para pangeran tampan tapi payah itu!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Baik, Yang Mulia.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Kemudian aku mengeluari kamarku bersama Mary. Pangeran-pangeran payah itu pun melihatku. Mereka tampak terkejut. Mereka pasti jatuh hati pada putri yang bergaun merah muda, yang mengikat rambut emasnya pada tiga sisi, yang membubuhkan blush on biru pada kedua pipinya, yang mewarnai bibir seksinya dengan lipstick merah merona, yang membubuhkan eyeshadow hitam pada kedua kelopak matanya, yang memasang bulu mata panjang warna oranye di kedua matanya, serta menggunakan parfum beraroma jasmine yang sama seperti namanya. Mereka terlihat berbisik satu sama lain. Mereka pasti sedang membicarakan penampilanku malam ini. Oh&#8230;, Aku merasa sangat tersanjung.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku pun menuruni tangga dengan menerbarkan senyumku kepada mereka. Terlihat dari kejauhan ayah dan ibuku yang tampak kecewa dan malu padaku. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu. Aku melakukannya karena aku memang tidak mau menikah dulu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Lalu aku mendekati mereka. Tapi sial! Aku terjatuh gara-gara tingginya hak sepatu merah muda ini. Salah seorang pangeran pun mendekatiku dan membantuku untuk bangkit.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“May I help you?” tanyanya dengan lembut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Oh.. Absolutely, yes.” Jawabku dengan agak gemetar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Oh&#8230;, tidak! aku tergoda olehnya. Bola mata hijau yang sama seperti warna topengnya&#8230;, sentuhan lembut tangannya&#8230;, suaranya&#8230; Oh Tuhan..!  Aku jatuh cinta. Meskipun aku tidak mengetahui persis wajahnya, tapi semua itu tak bisa dilupakan. Namun setelah itu dia pergi bersama pangeran-pangeran dari seluruh dunia, melangkah meninggalkanku. Memang itulah yang kumau. Tapi sebelumnya aku tidak menyangka bahwa aku akan jatuh cinta kepada salah seorang dari mereka.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Lalu dengan segera ibu mendekatiku dengan muka memerah. Dan sebelum ibu memarahiku, aku harus memulai pidatoku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Oh&#8230;Look around! What’s going on? I’m so sorry for what I’ve done&#8230;&#8230;”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Apa maksud semua ini, Yang Mulia Jasmine Williams?” tanya ibu dengan geram.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Sudahlah Kate, semua telah terjadi. Kita tidak bisa mengulang waktu kembali.” Kata ayah menenangkan ibu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Yes, you’re right! A+  for you, Dad! I have to go to my bedroom now. I love you all!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku pun membaringkan diri di atas ranjang merah mudaku. Lalu aku bangkit lagi untuk melepas gaunku dan semua aksesorisnya serta mengahapus make up yang menempel di wajahku. Setelah selesai dengan itu aku kembali berbaring. Aku terpikir pangeran dengan mata hijaunya tadi. Andai aku bisa mengetahui namanya. Aku tak bisa melupakannya. Mungkinkah dia pangeranku yang sesungguhnya, Yang telah kuimpikan selama ini? Kuharap jawabannya iya. Dan semoga saja malam ini aku bermimpi indah. Bermimpi tentang pangeranku, bermimpi tentang dia&#8230;&#8230;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">*		*	*	*	*	*	*</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tiit&#8230;tiit&#8230;Tiit&#8230;tiit&#8230;&#8230;” alarmku berbunyi. Aku pun segera mandi, lalu turun ke ruang makan. Seperti biasa, aku makan roti dan selai nanas. Ayah, ibu, Jason, Lil, dan Suz tampak memperhatikanku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanyaku sambil mengoleskan selai pada rotiku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tidak. Kami hanya heran pada apa yang kauperbuat semalam.” Kata Jason.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Memangnya semalam ada apa?”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Jangan berpura-pura, Jas! Kamu merusak pestanya!” kata Lil dengan nada menyindir.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Kalian merusak hidupku, sedangkan aku merusak pestanya. Kita satu sama!”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Kemudian aku berdiri dan melemparkan sisa rotiku ke atas meja makan. Lalu aku berlari ke kamarku sambil meneteskan air mata kembali. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Tiba-tiba ayah dan ibu datang ke kamarku dengan muka geram.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">“Tingkahmu semakin lama semakin tak karuan, Jasmine! Ayah terpaksa mengambil  jalan pintas!” bentak ayah padaku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Lalu ayah dan ibu keluar dari kamarku dan mengunci kamarku dari luar. Aku pun berlari ke arah pintu dan berteriak memohon agar seseorang membukakan pintu untukku. Tapi sudah tidak ada seorang pun di luar sana. Hanya ada aku sendiri, terkurung dalam kamar merah muda payah ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Hari-hari pun kulewati dengan tetap dikurung dalam kamar. Jika tiba saatnya makan, Mary membawakanku roti dan susu. Tapi aku tak pernah menyentuhnya. Aku ingin segera mati saja! Tiap hari pun kulewati dengan tangisan-tangisan yang tak ada seorang pun yang mendengarnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Hingga suatu pagi kuputuskan untuk kabur dari kastil. Kumeloncat lewat jendela kamarku. Dan untungnya aku mendarat di atas kasur bau yang dijemur karena ompol Susan. Aku pun bangkit dan menyelinap di balik pohon cemara. Lalu aku keluar dari gerbang kastil dengan mengenakan jeans biru dan kaos lengan panjang berwarna ungu tanpa sepengetahuan seorang pun.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff00ff;">Aku berlari secepat mungkin, dan setelah kastilnya terlihat agak jauh, aku berhenti sejenak di bawah pohon cemara yang rindang. Nafasku tersengal. Aku pun bingung harus lari ke mana lagi. Kuperhatikan keadaan sekelilingku. Aku tidak mengenali tempat ini karena aku tak pernah keluar dari kastil sebelumnya. Lalu aku naik ke sebuah bukit yang lumayan tinggi yang di puncaknya terdapat sebatang pohon apel yang menjulang dan berbuah merah segar. Sesampai di puncak bukit, aku melihat pemandangan di sekelilingnya. Aku bisa melihat sekumpulan bangunan dan orang-orang di sekitanya. Mungkin inilah yang disebut dengan kota. Kemudian aku memetik sebuah apel yang letaknya paling rendah di antara yang lain. Lalu aku memakannya. Rasanya sangat segar. aku pun memetik beberapa darinya dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong plastik yang aku temukan di bukit itu juga.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #ff00ff;"><em>Bersambung&#8230;&#8230;.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.osis.mtsppiu.sch.id/the-majesty-bagian-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
