Miss-Terius. Itulah julukan yang cocok untukku. Tiap kali aku keluar rumah, anak-amak kecil itu selalu saja memandangku. Aku merupakan seorang pembunuh bayaran. Iya, Alexandra Dundovic namaku. Dulu aku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahku meninggal 18 tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 5 tahun. Ibuku……, sebenarnya aku agak enggan membicarakannnya. Aku tak tahu sekarang dia berada dimana. Semenjak ayah meninggal, tingkah lakunya tidak karuan. Dia menjual dirinya kepada laki-laki hidung belang. Sudahlah! Tak usah lagi membicarakannya.
Tiga tahun yang lalu aku pernah memiliki seorang kekasih. Namanya Mike. Dia amat mencintaiku. Tapi akhirnya, kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku sangat mencintainya. Tapi aku harus mengakhiri hubungan ini. Sehingga kuputuskan untuk pindak ke luar kota dan mengganti namaku menjadi Daphne Mattheeusen agara tak ada lagi yang mengenaliku. Tapi sampai kini aku masih mencintai Mike. Dia satu-satunya lelaki yang kucintai di dunia ini. Tapi kini aku tak tahu berada di mana dia.
Oh iya! Aku lupa. Sekarang aku harus pegi ke rumah David McKinnie. Kemarin dia menelponku dan menawariku menjalankan misi membunuh saingannya, seorang bos besar yang amat tenar. Dan McKinnie menyuruhku pergi ke rumahnya sekarang.
Di gerbang rumah McKinnie, aku disambut sinis oleh dua orang bodyguard berpakaian hitam. Kutunjukkan kartu pengenalku, dan kemudian mereka membukakan gerbangnya. Salah satu dari mereka berdua pun mengantarkanku melewati taman, sampai di pinti rumah McKinnie. Sesampai di pintu rumahnya, bodyguard yang mengantarkanku itu membisikkan sesuatu kepada bodyguard lain yang berjaga di pintu rumah McKinnie. Lalu mereka membukakan pintunya. Satu dari mereka berdua pun mengantarkanku memasuki rumah McKinnie sampai datang seorang wanita berjas dan celana hitam yang membawa sebuh clipboard. Dari tanda pengenal yang tergantung pada lehernya, aku tahu bahwa dia adalah sekretaris McKinnie. Dia lalu menjabat tanganku..
“Aku Kelly van Cooper, sekretaris McKinnie.”
“Daphne Mattheeusen.”
“Untuk seorang pembunuh, kau lebih cantik dari yang kubayangkan.”
“Terima kasih.”
Lalu dia mengajakku memasuki ruang bawah tanah dari rumah McKinnie. Disana ada David McKinnie dan beberapa orang bodyguard di sekelilingnya. McKinnie pun mempersilahkanku duduk di atas sebuah kursi dari dua buah kursi khusus untukku dan McKinnie. Lalu datang seorang pelayan pria yang membawa sebotol whiskey dan dua buah gelas berukuran kecil. McKinnie pun menuangkan minuman itu pada gelasnya. Kemudian, belum sampai McKinnie menempelkan bibir botol whiskey iti pada gelasku, aku mencegahnya.
“Maaf, aku tidak minum.”
“Oh….kau tidak suka yang ini?Bagaimana dengan….”
“Maaf, kau tidak minum.”
“Baiklah. Aku yang akan menghabiskannya.”
McKinnie pun meminumnya sampai habis. Kemudian menuangkannya ke gelasnya lagi dan minum lagi. Lalu dia memulai pembicaraan.
“Kau kenal Mike Oliver?”
Mike Oliver? Seperti nama mantan kekasihku. Sekretaris McKinnie pun menhambil sele,bar foto dari sakunya. Kemudian foto itu diberikannya kepada McKinnie. Lalu ditunjukkannya kepadaku.
“Kau kenal dia?”
“Tidak.”
“Dia adalh direktur utama B&B Inc di kota ini. Dialh yang menggagalkan usahaku selama ini. Jadi aku ingin dia mati1”
Dia membentak dam memukulkan tangannya pada foto Mike yang berada di atas meja sehinnga semua tersentak. Lalu dia membisikkan sesuatu kepada sekretarisnya hingga dia mengambilkan selembar cek berniala US$ 1000.
“Bagaimana, kau terima tawaranku?”
“Aku bekerja 50 kali lebih handal, tembakanku 50 kali lebih mematikan dan…”
“Bayaranmu harus 50 kali lebih banyak?”
“Tepat!”
Kemudian McKinnie merobek cek US$ 1000 itu dan sekretarisnya memberikannya selembar cek lagi. Nilai cek itu US$ 50.000. tanpa banyak basa-basi, langsung kuanggukkan kepalaku. Lalu kami berdiri dan berjabat tangan. Kemudian aku diantarkan Kelly Mengeluari ruang itu. Dia mengajakku bicara.
“Berapa lama kau jadi pembunuh bayaran?”
“Tiga tahun.”
“Sudah berapa orang yang kau bunuh?”
“Sekitar 20 orang.”
“Dan sampai sekarang kau masih buron?”
“Iya.”
“Kau memang professional.”
“Itu rahasiaku.”
Dia mengantarkanku sampai di pintu rumah McKinnie. Kemudian aku pulang.
Sesampai di rumah, kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Aku berfikir habis-habisan. Bagaiman aku bisa membunuh jika targetnya adalh orang yang kucintai. Aku tak akan tega. Tapi kalau aku tidak membunhnya. Oh Tuhan! Aku benar-benar dilema. Tapi aku harus memilih salah satu mereka. Uang atau Mike. Aku harus memilih uang. Karena aku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku dibayar bukan untuk berbelas kasihan kepada orang lain. Namun aku harus dibayar untuk diriku sendiri. Untuk hidupku. Bukan untuk orang lain. Iya. Semua itu benar. Aku harus memulai misiku besok sebelum aku berubah pikiran.
* * * * * * * * * * * **
Hari ini ku mulai misiku. Aku harus pergi ke kantor Mike. Tapi, di jalan aku melihatnya bersama tiga orang karyawannya sedang berjalan menuju kantornya. Aku bersiap-siap membidiknya. Tapi, aku gemetar, dan…… “Dor!” Secara tidak sengaja sebutir peluru dari dalam pistolku tertembak kearah toko perhiasan yang terletak disamping kanan Mike. Lalu Mike menoleh ke arahku. Dia melihatku. Sepertinya dia mengenaliku. Aku pun bersembunyi dibalik bak sampah dan setelah keaadannya aman, aku pulang.
“Inilah yang kau sebut 50 kali lebih mematikan, Mattheeusen?”
“Kali ini meleset. Tapi besok pasti kena.”
“Kau kuberi kesempatan satu kali lagi.”
Keesokan harinya, kumulai misiku lagi. Aku melihat Mike memasuki kantornya. Aku langsung berlari, menuju lantai 5 dari sebuah gedung kosong bekas perusahaan mie instant yang terletak disebelah selatan gedung B&B Inc yang terbakar dua hari yang lalu. Dan kebetulan Mike menghadiri meeting di lantai 5 gedung B&B inc. aku langsung mengambil pistol dari dalam jaketku dan mulai membidiknya. Lagi.. Gemetar yang kurasakan. Tapi aku harus membunuh Mike sekarang juga. “Dor!” Peluruku menembus kaca jendela ruang pertemuan itu, lalu menembus kaki kiri Mike. Oh tidak! Pasti sakit. Semua orang yang ada di sana langsung menolong Mike dan membawanya ke rumah sakit.
Seusai kejadian itu aku merasa bersalah kepada Mike. Di rumah, aku menonton televise. Ada berita upaya pembunuhan seorang bigboss bernama Mike Oliver. Mike masih dalam keadaan kritis. Sementara polisi masih melakukan pencarian terhadap pelaku penembakan ini. Teleponku pun berdering.
“Kau meleset lagi, Mattheusen.”
“Besok aku akan mengirimnya ke surga. Maksudnyaa ke neraka. Aku janji.”
“Kau tidak main-main denganku kan?”
“Ehm. Aku serius.”
Gawat! Sepertinya McKinnie mulai mencurigaiku. Dia tak boleh tahu siapa aku dan apa sebenarnya hubunganku dengan Mike. Aku harus menutup rapat semua tentangku. Dia tak boleh tahu.
* * * * * * * * * * * **
Hari ini kusiapkan semua matang-matang. Aku menyelinap ke kamar di mana Mike dirawat di rumah sakit itu. Di sana Mike terbaring . Kasihan. Aku benar-benar tak tega melihatnya, apalagi membunuhnya. Untuk ketiga kalinya, kusiapakan pistolku dan kuletakaan mulut pistol itu tepat di pelipis Mike. Dia terbangun. Aku pun bersiap-siap menembakkan peluru dari dalam pistolku. Tapi tanganku tak sanggup bergerak sedikit pun. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana. Aku tidak bisa membunuhnya. Tiba-tiba Mike bicara.
“Alex., kaukah itu?” Aku hanya bisa diam, tak berkata sepatah pun
“Alex, jadi selama ini, kau yang melakukannya? Mengapa?”
“Di dunia ini yang kubutuhkan hanyalah uang. Tak ada yang lain.”
“Menurutmu uang adalah segalanya? Sudah berapa orang yang tak berdosa yang telah menjadi korban kekejianmu?”
“Itu bukan urusanmu! Sekarang kau diam! Atau……?
“Atau apa ? kau akan membunuhku ? Alex, tolong hadapilah kenyataan! Aku tahu, hatimu bertentangan dengan semua ini. Sebenarnya kau tak berkeinginan membunuhku kan?”
Aku gemetaran mendengar kata-katanya. Mukaku memerah menahan tangis.Jkeringat pun mengucur deras. Tiba-tiba, seseorang meletakkan sesuatu di pelipisku. Ternyata McKinnie dengan pistol di pelipisku. “Selamat pagi Nona! Kau sudah selesai dengan misimu, Nona Dundovic?” Oh tidak! Dia sudah tahu siapa aku. Dan dia sudah tahu semua tentangku dan Mike.
“Bagaimana, kau memilih untuk membunuh mantan kekasihmu, atau aku yang akan mengirim kalian berdua ke surga?”
Aku tak bisa menjawabnya. Mulutku tertutup rapat untuk pertanyaan itu. Mike memandangiku penuh makna. Tapi, aku tak mampu membaca matanaya. Kuambil napas panjang dan kuputuskan untuk menyerah pada takdir dan melepaskan pistol dari genggamanku yang kemudian terjatuh di samping kanan kepala Mike. Kupejamkan mataku dan kudengar suara jari McKinnie bersiap-siap menembakkan peluru ke kepalaku. “Dor!” Sebuah peluruterlpas dari sarangnya. Anehnya, sama sekali aku tidak terluka. Ternyata yang tertembak adalah McKinnie. Dengan pistolku, Mike menembak dada McKinnie, seketika dia tergeletak di atas lantai dan dia terkapar.
Air mata tak kuasa lagi kutahan. Ia pun membassahi pipiku. Mike pun bangkit dan merentangkan tanagannya, seakan dia ingin mengajakku memeluknya. Aku sama sekali tak sanggup menolaknya. Aku sangt membutuhkan sebuah pelukan. Aku pun memeluk dan menggenggam tangan Mike. Dalam pelukanku, Mike menyanyikan sebuah lagu.
“ Kan kupinjamkan bahuku untukmu menangis
Kan kuhapus air mata yang basahi pipimu
Kan kugenggam erat tanganmu
Tak kan kulepaskan
Kan kupeluk dirimu dengan segala rasa
Sayangku ………”
“Zahra, bangun Nak! Sudah jam enam. Kamu nggak sekolah?”
“E….! Ayo bangun! Kamu nggak sekolah? Lihat, sudah jam enam! Kamu itu kerjaannya Cuma ngigo saja! Cepat bangun!”
Aduh! Ternyata aku mimpi. Aku bukan Alex atau Daphne. Aku juga bukan seorang pembunuh bayaran. Aku hanya seorang pelajar kelas IX SMP. Kemarin, guru bahasa Indonesiaku memberikanku sebuah PR, yaitu membuat cerpen. Dan aku sampai stress memikirkan tema apa yang akan kupakai untuk membuat cerpen. Sampai terbawa mimpi. Mungkin dari mimpi itulah kutemukan sebuah inspirassi. Berprofesi sebagai pembunuh bayaran yang bertempat tinggal di luar negeri dan memilik client yang ingin membunuh seorang bigboss yang ternyata dia adalah mantan kekasihnya. Phuih! Benar-benar sepintas mimpi yang menegangkan!.







cerpenku mana ?
k0q gk d,publikasikan. . .
aq iri loch reek. . .